Ilmu diasah, kompetensi ditempa, sumpah terucap, tanggung jawab pun melekat. Sebuah perjalanan akademik mencapai babak baru, sekaligus membuka jalan pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat. Universitas Harapan Bangsa (UHB) menggelar Pengambilan Sumpah Profesi Apoteker Angkatan III bagi 40 lulusan pada Rabu, 14 Oktober 2026, di Krisna Ballroom, Purwokerto. Prosesi ini menandai kesiapan para lulusan mengemban tanggung jawab profesi sekaligus memperkuat kontribusi UHB dalam menyiapkan tenaga kefarmasian yang kompeten dan beretika.
Pengambilan sumpah tersebut menjadi momentum penting bagi lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UHB. Setelah menempuh rangkaian pendidikan profesi, para lulusan kini memasuki tahapan baru sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pasien. Prosesi berlangsung dengan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan bidang kesehatan dan pendidikan tinggi. Kolegium Farmasi Indonesia diwakili oleh Dr. apt. Vitis Vini Fera Ratna Utami, M.Sc. Sementara itu, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyumas diwakili apt. Gigih Aditya Pamungkas, S.Farm.

Hadir pula Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., K.N., M.H., bersama jajaran rektorat dan pimpinan Fakultas Kesehatan. Jajaran Yayasan Pendidikan Dwi Puspita turut menghadiri prosesi tersebut bersama organisasi profesi, mitra universitas, dan sejumlah mitra kerja sama lainnya. Kehadiran berbagai pihak mencerminkan pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah daerah, dan institusi pelayanan kesehatan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan tenaga kefarmasian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., K.N., M.H., menekankan bahwa pengambilan sumpah bukan sekadar penanda berakhirnya pendidikan profesi. Momentum tersebut sekaligus menjadi awal tanggung jawab besar seorang apoteker dalam menjalankan praktik kefarmasian. “Menjadi apoteker bukan hanya tentang penguasaan ilmu dan keterampilan, tetapi juga tentang integritas, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap keselamatan masyarakat. Sumpah yang diucapkan hari ini harus menjadi pedoman dalam setiap keputusan profesional. Kami berharap para lulusan mampu menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memberikan pelayanan kefarmasian yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kemanusiaan,” ujar Yuris.
Lebih lanjut, Yuris menggarisbawahi pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi kesehatan, dan kebutuhan pelayanan kefarmasian. Menurutnya, apoteker masa kini dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, serta kemauan mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan. “Dunia kesehatan terus berkembang, begitu pula tantangan yang akan dihadapi para apoteker. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah memperoleh gelar profesi. Jadilah tenaga kesehatan yang mampu menghadirkan solusi, berinovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain prosesi pengambilan sumpah, UHB memberikan penghargaan kepada tiga lulusan terbaik Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan III. Penghargaan tersebut diberikan kepada apt. Alvin Ulinnuha, S.Farm., apt. Dessy Trisiani, S.Farm., dan apt. Ferlinda Agustina, S.Farm. Apresiasi ini menjadi bentuk pengakuan universitas terhadap capaian akademik dan proses pembelajaran yang telah ditempuh para lulusan. Ketiganya diharapkan dapat mempertahankan semangat belajar serta mengembangkan kompetensi dalam menjalankan tanggung jawab profesinya.
Bagi UHB, keberhasilan mengantarkan 40 lulusan menuju profesi apoteker juga memiliki makna strategis dalam pengembangan pendidikan kesehatan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Peran tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera. Kehadiran tenaga kefarmasian yang kompeten diharapkan turut mendukung penggunaan obat secara rasional, keselamatan pasien, dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

Pada saat bersamaan, penyelenggaraan pendidikan profesi juga berkaitan dengan SDGs tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas. Pendidikan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan berpengetahuan, tetapi juga profesional yang memiliki etika dan kemampuan menjawab kebutuhan masyarakat. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya UHB mengembangkan pendidikan tinggi yang mengintegrasikan kompetensi akademik, karakter, dan semangat kemandirian. Dalam bidang kefarmasian, pendekatan ini membuka ruang bagi lulusan untuk berkontribusi melalui pelayanan kesehatan, pengembangan inovasi, maupun kewirausahaan yang bertanggung jawab.
Melalui pengambilan sumpah Angkatan III, UHB kembali menegaskan perannya dalam mempersiapkan tenaga kesehatan profesional. Sebanyak 40 apoteker baru kini mengemban amanah untuk menerapkan ilmu, menjaga etika profesi, dan mengutamakan keselamatan pasien. Gelar profesi menjadi pencapaian akademik, sedangkan pengabdian menjadi pembuktian sesungguhnya. Bagi para apoteker baru UHB, sumpah yang diucapkan hari ini menjadi awal perjalanan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
