Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa (UHB) menyelenggarakan Kuliah Pakar bertajuk Ventilator Mesin Anestesi dan Praktik Caring pada Sabtu, 11 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung E Kampus 1 UHB ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam mengenai mekanika ventilasi modern sekaligus menjaga esensi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan yang kritis.

Menghadirkan Fikri Mourly Wahyudi, S.Kep., M.K.M., FISQua sebagai pembicara utama, kuliah ini menyoroti peran krusial mesin anestesi sebagai perangkat medis yang mencampur aliran gas segar dengan agen inhalasi untuk mempertahankan kondisi pasien selama operasi. Fikri menjelaskan bahwa mesin anestesi modern kini telah terintegrasi dengan sistem ventilasi mekanik yang kompleks, menuntut calon penata anestesi untuk menguasai berbagai mode seperti Volume Control Ventilation (VCV) dan Pressure Control Ventilation (PCV) guna mencegah komplikasi serius.
Pemaparan materi menekankan bahwa penggunaan ventilator yang tidak tepat dapat memicu Ventilator-Induced Lung Injury (VILI), termasuk risiko barotrauma akibat tekanan tinggi maupun volutrauma karena volume tidal yang berlebih. Mahasiswa diajak memahami perbedaan teknis antara ventilator ICU yang bersifat open circuit dengan ventilator mesin anestesi yang menggunakan sistem semi-closed atau closed melalui mekanisme bellow atau piston.
Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menyatakan bahwa penguatan literasi teknologi medis yang dibarengi dengan etika keperawatan merupakan langkah konkret universitas dalam mendukung tatanan kesehatan global.
“Kegiatan ini adalah manifestasi komitmen kita dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya mahir secara teknis operasional, tetapi juga memiliki kedalaman empati, karena teknologi secanggih apapun hanyalah alat bantu bagi jiwa yang peduli,” ujar Dr. Yuris di sela acara.

Upaya peningkatan kualitas pendidikan ini secara halus selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera, di mana pengurangan angka kematian melalui prosedur pembedahan yang aman sangat bergantung pada kompetensi tenaga medis. Dengan memastikan penata anestesi mampu memitigasi risiko biotrauma atau respon inflamasi sistemik pada pasien, UHB berkontribusi pada penguatan sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Selain aspek teknis, kuliah pakar ini mengintegrasikan Teori Caring Swanson yang mencakup lima proses dasar: knowing, being with, doing for, enabling, dan maintaining belief. Fikri menekankan bahwa meskipun pelayanan anestesi sangat teknis dan sering kali menghadapi kendala komunikasi saat pasien tidak sadar, prinsip person-centred care tetap menjadi standar tertinggi dalam praktik profesional.
Sebagai penutup, mahasiswa diingatkan bahwa penentuan mode ventilasi harus selalu dikolaborasikan dengan dokter spesialis anestesi. Namun, sebagai calon penata anestesi, penguasaan terhadap pengaturan parameter seperti Respiratory Rate (RR), Tidal Volume (TV), dan Positive End-Expiratory Pressure (PEEP) adalah kewajiban mutlak untuk menjamin keselamatan pasien di meja operasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan bagi mahasiswa STKA UHB untuk menjadi praktisi yang kompeten, kompetitif, dan humanis di masa depan.
