Universitas Harapan Bangsa bersama PKBI Banyumas dan Pemerintah Desa Karangkedawung menggelar Edukasi Remaja dan Pelatihan Kader Posyandu Remaja pada 8 dan 9 Agustus 2026. Kegiatan di Desa Karangkedawung, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, tersebut membekali remaja dengan pengetahuan kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan, pelayanan Posyandu Remaja, serta pemeriksaan kesehatan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan peran aktif remaja di tingkat desa. Remaja diharapkan tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga mampu terlibat dalam kegiatan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Kepala Desa Karangkedawung Dwi Rudianto Setiadi, S.H. membuka kegiatan tersebut. Dukungan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam membangun ruang partisipasi remaja yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Pelatihan kader Posyandu Remaja diberikan oleh Ketua PKBI Banyumas sekaligus dosen UHB, Dr. Susilo Rini, S.ST., M.Kes. Peserta mempelajari konsep pelayanan sekaligus mengikuti simulasi pelaksanaan Posyandu Remaja dari meja satu hingga meja lima. Simulasi tersebut membantu kader memahami tahapan pelayanan, pembagian tugas, pencatatan, pemeriksaan, hingga pemberian edukasi kesehatan. “Posyandu Remaja perlu dipahami bukan sekadar tempat melakukan pemeriksaan kesehatan. Wadah ini dapat menjadi ruang bagi remaja untuk mengenali kondisi dirinya, mendapatkan informasi yang benar, sekaligus belajar menjadi penggerak kesehatan di lingkungannya,” kata Susilo Rini.
Materi kemudian berlanjut pada kesehatan reproduksi dan berbagai persoalan yang dihadapi remaja. Fasilitator Youth Forum SATRIA PKBI Banyumas, Maulisa Audina Salsabila, juga memberikan edukasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan. Peserta diajak mengenali bentuk kekerasan yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar. Mereka juga mendapat pemahaman mengenai langkah pencegahan serta tindakan yang dapat dilakukan ketika mengalami atau menemukan kasus kekerasan.
Rektor UHB Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H. menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan remaja perlu diarahkan pada dampak yang dapat dirasakan masyarakat. “Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan sumber daya yang dapat diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika dosen, mahasiswa, organisasi masyarakat, dan pemerintah desa bergerak bersama, pengetahuan tersebut dapat berkembang menjadi perubahan yang berkelanjutan,” ujar Yuris. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi pemeriksaan kesehatan remaja. Langkah tersebut diharapkan menumbuhkan kebiasaan memantau kondisi kesehatan sejak dini dan mendorong kesadaran terhadap pentingnya upaya pencegahan.
Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB Riska Nadiya Salsabela, S.E., M.Sc. mengatakan kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan perguruan tinggi dapat dibangun dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Kolaborasi seperti ini penting karena dampaknya tidak berhenti pada penyampaian materi. Ketika kader remaja mampu melanjutkan pengetahuan yang diperoleh kepada teman sebaya, manfaat program dapat tumbuh dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” kata Riska.
Ketua TP PKK Desa Karangkedawung Yulia Rindawati berharap kegiatan pemberdayaan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut. Salah satu gagasannya adalah menghadirkan pertunjukan yang mengangkat persoalan remaja melalui pendekatan kreatif dan budaya lokal.
Gagasan tersebut membuka ruang bagi remaja untuk menyampaikan keresahan, pengalaman, dan pandangan mereka melalui karya. Pendekatan ini sekaligus mempertemukan aspek kesehatan dengan pendidikan dan pencegahan kekerasan dalam satu gerakan pemberdayaan.
Upaya tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang menempatkan kesehatan, pendidikan berkualitas, perlindungan dari kekerasan, serta kemitraan masyarakat sebagai bagian penting pembangunan manusia. Melalui kader Posyandu Remaja, UHB, PKBI Banyumas, dan Pemerintah Desa Karangkedawung berharap lahir ruang yang semakin kuat bagi generasi muda untuk sehat, berdaya, bersuara, serta berkontribusi bagi lingkungan mereka.
