Universitas Harapan Bangsa (UHB) kembali menorehkan capaian penting dalam pengembangan sumber daya manusia bidang kesehatan melalui Angkat Sumpah Profesi Apoteker Angkatan II yang digelar di Java Heritage Hotel, Kamis, 7 Mei 2026. Pada prosesi tersebut, sebanyak 38 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UHB resmi mengucapkan sumpah profesi dan dikukuhkan sebagai apoteker yang siap mengabdikan diri kepada masyarakat, dunia pelayanan kesehatan, serta industri farmasi nasional.
Prosesi pengambilan sumpah berlangsung khidmat dengan dihadiri pimpinan universitas, dosen, organisasi profesi, orang tua lulusan, serta para tamu undangan. Pengucapan sumpah profesi menjadi tahapan penting yang menandai kesiapan para lulusan untuk menjalankan praktik kefarmasian sesuai standar kompetensi, etika profesi, dan regulasi yang berlaku.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menyampaikan bahwa pengukuhan apoteker baru bukan sekadar seremoni akademik, melainkan wujud kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten dan berintegritas. “Pengambilan sumpah profesi merupakan titik awal pengabdian seorang apoteker kepada masyarakat. UHB berharap para lulusan mampu menjalankan profesinya dengan penuh integritas, menjunjung tinggi etika kefarmasian, serta terus mengembangkan kompetensi untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang semakin dinamis,” ujar Yuris.
Menurutnya, kehadiran apoteker yang berkualitas menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Hal tersebut sejalan dengan upaya mendukung pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan akses dan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat.

Ketua Program Studi S1 Farmasi dan Pendidikan Profesi Apoteker UHB, Galih Samodra, S.Farm., Apt., M.Farm., menjelaskan bahwa keberhasilan meluluskan 38 mahasiswa profesi apoteker merupakan hasil dari proses pendidikan yang menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan praktik, serta pembentukan karakter profesional. “Kami bersyukur seluruh lulusan dapat menyelesaikan tahapan pendidikan profesi dengan baik. Mereka telah melalui proses pembelajaran akademik, praktik di berbagai wahana pelayanan kefarmasian, hingga uji kompetensi yang menuntut kesiapan secara keilmuan maupun etika profesi. Kami optimistis para lulusan mampu memberikan kontribusi positif di tempat pengabdian masing-masing,” kata Galih.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan tenaga kefarmasian yang kompeten terus meningkat seiring perkembangan layanan kesehatan, teknologi farmasi, dan tuntutan keselamatan pasien. Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan lulusan yang adaptif dan siap menghadapi perubahan.

Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Riska Nadiya Salsabela, S.E., M.Sc., menilai keberhasilan penyelenggaraan Angkat Sumpah Profesi Apoteker Angkatan II menjadi bukti komitmen UHB dalam menjaga kualitas pendidikan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. “Momentum ini menunjukkan bahwa UHB terus berupaya menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu memberikan dampak bagi masyarakat. Kehadiran 38 apoteker baru menjadi kontribusi nyata universitas dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul,” ungkapnya.

Selain menjadi tonggak penting bagi para lulusan, prosesi angkat sumpah juga menjadi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang harus diemban oleh setiap apoteker. Dalam menjalankan profesinya, para lulusan dituntut untuk senantiasa menjunjung tinggi keselamatan pasien, etika profesi, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian.

Dengan bertambahnya 38 apoteker baru dari UHB, universitas berharap para lulusan dapat menjadi agen perubahan di berbagai sektor kesehatan, mulai dari rumah sakit, apotek, industri farmasi, instansi pemerintah, hingga kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan turut memperkuat upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan bersama.
