Teknologi boleh melaju, tetapi nurani tak boleh layu. Riset boleh semakin cerdas, tetapi manfaatnya harus semakin terasa. Semangat itu mengemuka dalam Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau SNPPKM 2026 yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Harapan Bangsa pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Digelar melalui Zoom Meeting, SNPPKM 2026 mengangkat tema “Integrasi Kecerdasan Artifisial dalam Riset dan Pengabdian untuk Mendorong Inovasi Kewirausahaan dan Kemandirian Berbudaya di Bidang Kesehatan, Sosial, dan Teknologi”. Forum ini mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi untuk membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab dalam Tridharma Perguruan Tinggi.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor I UHB, Ns. Murniati, S.Kep., M.Kep., yang hadir mewakili Rektor Universitas Harapan Bangsa. Seminar juga menjadi ruang diseminasi hasil penelitian dan pengabdian sekaligus pertukaran gagasan mengenai transformasi digital di lingkungan akademik. Tiga narasumber hadir dalam SNPPKM 2026 UHB. Mereka adalah Dr. Tukimin Bin Sanswito, Ph.D. dari Lincoln University College Malaysia, Dr. Luki Davira Nugroho, S.H., M.H. dari Universitas Trunojoyo Madura, serta Dr. Imam Ahmad Ashari, S.Kom., M.Kom., dosen Informatika UHB sekaligus CEO Futura Teknologi.
Diskusi dipandu Apita Fitrimawati, S.H., M.H., dosen Program Studi S1 Hukum UHB. Peserta berasal dari UHB dan sejumlah perguruan tinggi lain, termasuk Universitas Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas Lampung, IAIN Kerinci, dan Universitas PGRI. Pada sesi pertama, Tukimin membahas posisi kecerdasan artifisial dalam pendidikan, praktik klinis, dan penelitian keperawatan. Menurut paparannya, AI dapat mempercepat pengolahan data kesehatan, dokumentasi, dan membantu proses pengambilan keputusan klinis.
Namun, teknologi tidak dapat menggantikan aspek kemanusiaan dalam pelayanan keperawatan. Empati, kepedulian, serta penilaian klinis tetap menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Pemanfaatan AI juga berkembang dalam simulasi pembelajaran berbasis realitas virtual, pembelajaran adaptif, serta analisis data penelitian. Meski demikian, rekomendasi yang dihasilkan sistem tetap memerlukan pemeriksaan dan pengendalian mutu oleh manusia.

Persoalan integritas penelitian kemudian menjadi perhatian pada sesi kedua. Luki menekankan bahwa etik penelitian bukan sekadar kelengkapan administratif. Etik menjadi instrumen untuk melindungi manusia, privasi subjek penelitian, serta kredibilitas lembaga akademik. Pelanggaran seperti plagiarisme, fabrikasi, dan falsifikasi data dapat membawa konsekuensi serius. Dampaknya tidak hanya menyentuh reputasi akademik, tetapi juga dapat memasuki ranah perdata, pidana, dan administratif.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan sejumlah regulasi nasional, termasuk Undang Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Undang Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Perguruan tinggi karena itu perlu memperkuat komisi etik penelitian dan mekanisme ethical clearance. Langkah tersebut penting agar penelitian memenuhi prinsip integritas sebelum dipublikasikan atau diajukan untuk memperoleh pendanaan.

Sementara itu, Imam Ahmad Ashari membawa diskusi menuju praktik pemanfaatan AI dalam proses penelitian. Berbagai perangkat seperti ChatGPT, Gemini, Claude, NotebookLM, RAG, dan Agentic AI disebut dapat membantu pencarian literatur, pemrosesan data, pemrograman, hingga pemodelan. Kemudahan tersebut tetap menyimpan tantangan. Sistem AI dapat menghasilkan informasi keliru, sumber yang tidak tersedia, bias, atau korelasi yang tidak memiliki dasar kuat. Karena itu, proses verifikasi manusia tetap menjadi bagian penting dalam penelitian.
Peneliti, menurut Imam, perlu memeriksa kembali data dan referensi melalui sumber akademik yang dapat dipertanggungjawabkan. Basis data ilmiah seperti Scopus dan Sinta dapat menjadi bagian dari proses verifikasi tersebut. Lebih jauh, pemanfaatan AI diharapkan tidak berhenti pada peningkatan jumlah publikasi. Penelitian perlu diarahkan menuju prototipe, teknologi terapan, hingga produk yang dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Arah tersebut sejalan dengan upaya UHB membangun ekosistem penelitian yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, dan kebutuhan masyarakat. Riset diharapkan dapat bergerak menuju hilirisasi sekaligus membuka peluang terciptanya inovasi yang bernilai sosial maupun ekonomi.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai perkembangan AI harus diikuti penguatan tanggung jawab akademik. “AI memberi peluang besar untuk mempercepat penelitian dan menghadirkan berbagai inovasi. Namun, kemajuan teknologi harus berjalan bersama etika, integritas, dan kebermanfaatan. Riset yang baik bukan hanya menghasilkan publikasi, tetapi mampu menjawab persoalan masyarakat dan berkembang menjadi inovasi yang memberikan dampak,” ujarnya.
Pembahasan dalam SNPPKM 2026 juga bersinggungan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Penguatan riset kesehatan mendukung upaya peningkatan kualitas kehidupan. Pendidikan dan literasi teknologi berkaitan dengan pengembangan pendidikan berkualitas, sedangkan hilirisasi inovasi memperkuat ekosistem industri, inovasi, dan infrastruktur. Kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lintas negara dalam forum tersebut turut membuka ruang kemitraan pengetahuan. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals yang menempatkan kolaborasi sebagai salah satu fondasi pembangunan berkelanjutan.
Melalui SNPPKM 2026, UHB mendorong agar kecerdasan artifisial tidak hanya menjadi alat untuk mempercepat pekerjaan akademik. Teknologi juga perlu menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebermanfaatan, antara publikasi dan inovasi, serta antara kemajuan global dan kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya, kualitas riset tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan. Nilainya juga ditentukan oleh integritas proses, ketepatan penerapan, dan seberapa jauh hasil penelitian mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan.
