Teknologi boleh melaju, tetapi sentuhan manusia tak boleh berlalu. Kecerdasan buatan dapat membaca data dan membantu menentukan arah, tetapi empati tetap tumbuh melalui kepedulian perawat kepada pasien. Pesan itu mengemuka saat Dr. Tukimin Bin Sanswito, Ph.D., Senior Lecturer Lincoln University College Malaysia, membahas peran kecerdasan buatan dalam pendidikan, praktik, dan penelitian keperawatan pada Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Harapan Bangsa 2026, Rabu, 7 Oktober 2026. Seminar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut mengangkat materi berjudul “Roles of Artificial Intelligence in Advancing Nursing Education, Practice, and Research”. Sesi dipandu Apita Fitrimawati, S.H., M.H., dosen Program Studi S1 Hukum Universitas Harapan Bangsa.

Dr. Tukimin menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan semakin relevan bagi dunia keperawatan. Perubahan digital berlangsung cepat, sementara tenaga kesehatan menghadapi beban kerja tinggi dan kondisi pasien yang semakin kompleks. Kebutuhan terhadap keputusan klinis berbasis bukti juga terus meningkat. Pada kondisi tersebut, teknologi dapat membantu tenaga keperawatan mengolah informasi secara lebih cepat dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih terukur. Pemanfaatannya dapat dimulai sejak pendidikan keperawatan. Teknologi AI memungkinkan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Simulasi Virtual Reality juga dapat digunakan untuk melatih keterampilan klinis maupun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Tutor berbasis AI dapat mendukung proses pembelajaran interaktif. Teknologi yang sama juga mampu membantu pengajar menyusun materi dan skenario kasus klinis.

Pada layanan kesehatan, AI dapat mendukung dokumentasi medis, memetakan risiko komplikasi, serta membantu deteksi dini kondisi pasien. Teknologi juga membuka peluang pemantauan kesehatan jarak jauh dan penggunaan asisten klinis untuk mendukung pekerjaan tenaga kesehatan. Manfaat serupa ditemukan dalam penelitian. AI dapat membantu peneliti mengolah data dalam jumlah besar, mempercepat transkripsi, menelusuri literatur, dan mengembangkan gagasan penelitian. Namun, Dr. Tukimin menekankan bahwa teknologi tidak menggantikan manusia. Profesi keperawatan memiliki dimensi empati dan kepedulian yang tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada mesin. Setiap informasi yang dihasilkan AI tetap membutuhkan pemeriksaan manusia. Tenaga kesehatan maupun peneliti harus melakukan verifikasi ilmiah dan pengendalian mutu sebelum menggunakan hasil tersebut sebagai dasar keputusan. Prinsip itu juga berlaku dalam dunia akademik. Penggunaan AI oleh mahasiswa dan peneliti perlu disertai disiplin terhadap integritas akademik, termasuk pencegahan plagiarisme, pemeriksaan kemiripan karya, serta kewaspadaan terhadap bias dalam data dan keluaran teknologi.

Rektor Universitas Harapan Bangsa Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H. menilai pembahasan tersebut penting untuk menempatkan perkembangan teknologi dalam kerangka kemanusiaan dan tanggung jawab akademik. “Perguruan tinggi perlu menyiapkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Teknologi harus memperkuat kualitas pelayanan, penelitian, dan pendidikan, bukan mengurangi nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi profesi kesehatan,” ujar Yuris. Menurutnya, kemampuan menguasai teknologi perlu berjalan bersama kompetensi profesional dan integritas. Perguruan tinggi karena itu memiliki peran strategis dalam membangun literasi AI sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.

Pembahasan tersebut turut memperkuat perhatian UHB terhadap pendidikan berkualitas dan pengembangan layanan kesehatan yang lebih adaptif. Arah tersebut beririsan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa, terutama tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera serta tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas. Pemanfaatan inovasi dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, dan penelitian juga membuka ruang bagi kontribusi terhadap tujuan kesembilan mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. Melalui SNPPKM 2026, Universitas Harapan Bangsa mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan yang tidak berhenti pada kecanggihan teknologi. AI ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, sementara keputusan, integritas, empati, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.

LPH

By LPH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *