Universitas Harapan Bangsa memberikan beasiswa kuliah gratis bagi penari yang terlibat dalam Festival Lengger Bicara 2026 di kawasan Menara Teratai Purwokerto, Jumat, 26 Juni 2026. Program tersebut menjadi langkah nyata UHB dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi pelaku seni tradisi, sekaligus memperkuat komitmen kampus terhadap pelestarian budaya lokal Banyumas.

Pengumuman beasiswa itu disampaikan di tengah semarak Festival Lengger Bicara 2026 yang menghadirkan sekitar 5.000 penari dari berbagai kelompok kesenian di Banyumas dan sekitarnya. Dengan mengusung tema “Gemah Ripah Loh Jinawi”, festival ini menjadi ruang perjumpaan antara seni, masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi dalam merawat identitas budaya sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih luas bagi generasi muda.

Atmosfer kegiatan berlangsung meriah sejak rangkaian pertunjukan lengger, kirab budaya, tari massal, hingga penghargaan bagi para pelaku seni digelar. Kehadiran Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., turut menegaskan pentingnya festival ini sebagai ruang strategis untuk menghidupkan kembali energi kebudayaan daerah. Di tengah antusiasme ribuan penari dan masyarakat yang memenuhi area Menara Teratai, UHB hadir membawa pesan bahwa seni tradisi tidak hanya perlu dirawat, tetapi juga perlu diberi ruang tumbuh melalui pendidikan.

Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menyampaikan bahwa beasiswa tersebut merupakan bagian dari komitmen universitas dalam menghubungkan pendidikan tinggi dengan pelestarian budaya. “UHB berkomitmen untuk membuka akses pendidikan seluas luasnya bagi generasi muda, termasuk para pelaku seni tradisi. Kami percaya bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Yuris. Menurutnya, kebudayaan akan semakin kuat ketika para pelakunya memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan, jejaring, dan kapasitas kepemimpinan.

Program beasiswa ini juga menjadi kontribusi UHB dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals poin keempat pendidikan bermutu, poin kesepuluh berkurangnya kesenjangan, serta poin kesebelas kota dan permukiman yang berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya. Pemberian akses kuliah bagi penari lengger memperlihatkan bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif dalam mempertemukan pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat secara langsung. Para penerima beasiswa tetap akan mengikuti ketentuan akademik dan administrasi yang berlaku di UHB.

Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Riska Nadya Salsabela, S.E., M.Sc., mengatakan bahwa program ini dirancang untuk membuka ruang mobilitas sosial bagi pelaku seni muda. “Bakat seni tidak boleh berhenti karena keterbatasan akses pendidikan. Beasiswa ini membuka kesempatan bagi penari lengger untuk berkembang melalui pendidikan tinggi,” kata Riska. Ia menambahkan, para penari memiliki potensi besar menjadi penggerak budaya, pengelola pertunjukan, pelaku ekonomi kreatif, dan agen pembangunan di daerah asalnya. “Kami berharap para penerima beasiswa dapat menjaga tradisi sekaligus menghadirkan inovasi. Pengetahuan dari kampus dapat dibawa kembali untuk memberikan manfaat bagi desa dan komunitasnya,” ujarnya.

LPH

By LPH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *