Riset tak cukup berhenti menjadi publikasi, inovasi mesti bergerak menjadi solusi. Pesan itu mengemuka dalam SNPPKM 2026 Universitas Harapan Bangsa, Rabu, 7 Oktober 2026. Dr. Imam Ahmad Ashari, S.Kom., M.Kom. mengajak akademisi menempatkan kecerdasan artifisial sebagai mitra riset yang tetap dikendalikan manusia. Seminar yang digelar secara daring itu juga menekankan pentingnya membawa hasil penelitian hingga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 2026 tersebut diselenggarakan LPPM Universitas Harapan Bangsa. Kegiatan berlangsung melalui Zoom dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi UHB. Dr. Imam Ahmad Ashari merupakan dosen S1 Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UHB sekaligus CEO Futura Teknologi. Ia membawakan materi bertajuk “Integrasi Kecerdasan Artifisial dalam Riset Akademis Mendorong Inovasi Teknologi yang Berdampak Nyata”. Menurut Imam, perkembangan AI telah mengubah cara peneliti menjalankan proses akademik. Teknologi tersebut kini dapat membantu penelusuran literatur, pengolahan data, pemrograman, analisis, hingga penyajian informasi.

Kebutuhan itu semakin besar karena jumlah publikasi ilmiah terus bertambah dengan cepat. Peneliti juga menghadapi data berukuran besar dan beragam. Kondisi tersebut membuat metode pengolahan secara manual semakin sulit diterapkan pada sejumlah bidang penelitian. AI juga membuka peluang untuk mengurangi waktu dan biaya eksperimen. Simulasi komputasional dapat membantu peneliti mempersempit pilihan sebelum melakukan pengujian langsung. Meski demikian, Imam menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan tanggung jawab ilmiah peneliti. Pendekatan human in the loop menjadi penting agar keputusan tetap berada pada pakar.

Setiap keluaran AI harus diperiksa kembali. Referensi perlu diverifikasi melalui basis data ilmiah yang kredibel. Peneliti juga harus mengantisipasi bias, informasi keliru, korelasi palsu, dan kebocoran data sensitif. Sejumlah teknologi dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan penelitian. Di antaranya machine learning, deep learning, pemrosesan bahasa alami, computer vision, generative AI, RAG, Agentic AI, dan Explainable AI. Pada sektor kesehatan, misalnya, AI dapat membantu analisis citra medis. Teknologi serupa dapat digunakan dalam kajian sosial, hukum, bisnis, pariwisata, lingkungan, serta pengembangan material.

Imam juga menyoroti tantangan hilirisasi penelitian di Indonesia. Menurutnya, riset tidak seharusnya selesai setelah artikel diterbitkan atau prototipe dibuat. Hasil penelitian perlu diarahkan menuju produk yang teruji. Tahap berikutnya dapat mencakup pembuatan Minimum Viable Product, pengujian lapangan, perlindungan kekayaan intelektual, dan pengembangan model bisnis. Inovasi selanjutnya dapat didorong menuju Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7 sampai 9. Kolaborasi akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media menjadi penting dalam proses tersebut.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., memandang penguatan riset berbasis AI perlu dibarengi orientasi kebermanfaatan. “Kecerdasan artifisial seharusnya memperkuat kapasitas peneliti untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat diterjemahkan menjadi solusi bagi masyarakat. UHB ingin membangun budaya riset yang tidak berhenti pada publikasi, tetapi tumbuh menjadi inovasi yang etis, relevan, dan berkelanjutan.” Pendekatan tersebut beririsan dengan agenda Sustainable Development Goals Perserikatan Bangsa Bangsa. Pendidikan dan penguatan kapasitas peneliti mendukung tujuan pendidikan berkualitas.

Hilirisasi teknologi memperkuat agenda industri, inovasi, dan infrastruktur. Pemanfaatan AI untuk kesehatan juga membuka kontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pada saat yang sama, kolaborasi lintas sektor memperkuat semangat kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membangun ekosistem penyelesaian masalah. Melalui SNPPKM 2026, UHB mendorong akademisi menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Teknologi ditempatkan sebagai pengungkit, sedangkan manusia tetap menentukan arah. Dengan pola tersebut, laboratorium tidak menjadi titik akhir penelitian. Ia menjadi ruang awal lahirnya inovasi yang diuji, dikembangkan, dan akhirnya hadir di tengah masyarakat.

LPH

By LPH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *