Passion boleh menjadi awal, tetapi keberanian menentukan langkah, kreativitas membuka peluang, dan konsistensi menjaga usaha tetap berkembang. Semangat itu mewarnai Talkshow Kewirausahaan “Gen Z Next Level: Dari Ide & Passion Jadi Entrepreneur” yang digelar Universitas Harapan Bangsa dalam rangkaian PKKMB UHB 2026 di Kampus 1 UHB, Rabu, 30 September 2026.
Menghadirkan entrepreneur Fransiska Graseana atau Cici Fransiska, kegiatan tersebut membekali mahasiswa baru dengan pengalaman praktis membangun bisnis. Pemilik Mimosa Bakery & Gourmet Cookies serta Mari Matcha itu berbagi perjalanan usaha, strategi merek, pengelolaan keuangan, hingga cara membaca tren pasar. Sesi yang dimoderatori mahasiswa UHB, Nabila Rizki Rahyanti, tidak berhenti pada diskusi. Mahasiswa juga mengikuti Signature Matcha Class bersama tim Mari Matcha untuk mengenal proses pengolahan matcha dan pengembangan produk minuman modern.

Fransiska mengajak mahasiswa tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai usaha. Pengalaman membangun bisnis sejak 2012 membuatnya memahami bahwa usaha dapat tumbuh melalui proses kecil yang dijalankan secara disiplin. Pada masa awal merintis bisnis, ia harus menangani berbagai pekerjaan secara mandiri. Kondisi tersebut membuatnya menjalankan peran sebagai “chief everything officer”, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Menurut Fransiska, kemampuan membaca tren penting bagi pelaku usaha. Namun, mengikuti produk yang sedang viral tidak cukup untuk menjaga bisnis dalam jangka panjang. Produk yang populer di media sosial dapat mendorong pendapatan dalam waktu cepat. Bisnis tetap membutuhkan produk khas yang mampu membangun ingatan konsumen terhadap sebuah merek.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah masuk dalam persaingan harga. Pelaku usaha perlu menawarkan nilai tambah melalui kualitas produk, layanan, pengalaman konsumen, serta identitas visual yang konsisten. Pengelolaan keuangan menjadi bagian lain yang mendapat perhatian. Mahasiswa didorong memisahkan uang pribadi dan usaha serta membiasakan pencatatan arus kas sejak bisnis masih berskala kecil.
Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai pembekalan kewirausahaan sejak awal masa studi penting untuk membangun pola pikir mahasiswa yang adaptif dan mandiri. “Mahasiswa perlu melihat kewirausahaan bukan sekadar pilihan pekerjaan, tetapi sebagai kemampuan menciptakan solusi dan nilai bagi masyarakat. Kampus ingin memberi ruang agar ide mereka dapat tumbuh menjadi karya yang berdampak dan berkelanjutan,” ujar Yuris.

Pembelajaran kemudian bergerak dari gagasan menuju praktik melalui Signature Matcha Class. Tim Mari Matcha mengenalkan teknik pengolahan matcha, mulai dari pengaturan suhu air sekitar 77 derajat Celsius hingga penggunaan bubuk maksimal empat gram untuk satu porsi. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan teknik mengocok matcha menggunakan chasen melalui gerakan menyerupai huruf M, W, atau Z. Hasilnya digunakan untuk membuat Usucha dan Classic Latte.
Pjs. Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Aldhila Sispaka Putra, S.E., mengatakan pengalaman langsung tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan ekosistem kewirausahaan kepada mahasiswa baru. “Mahasiswa tidak hanya mendengar cerita keberhasilan bisnis, tetapi melihat proses di balik sebuah produk. Mereka belajar mengenai kreativitas, pengelolaan merek, keuangan, hingga pengalaman konsumen sebagai satu kesatuan,” kata Aldhila.

Pembekalan tersebut sejalan dengan upaya memperluas pendidikan berkualitas sekaligus menumbuhkan kemampuan kewirausahaan generasi muda. Nilai itu berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama peningkatan kualitas pendidikan, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta penguatan inovasi.
Melalui rangkaian PKKMB 2026, UHB mendorong mahasiswa memasuki kehidupan kampus tidak hanya sebagai pembelajar. Mereka juga dipersiapkan menjadi pencipta gagasan, pengembang peluang, dan calon entrepreneur yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Bagi mahasiswa baru, pesan hari itu sederhana. Ide tidak harus menunggu sempurna, passion tidak cukup berhenti menjadi cerita. Langkah kecil yang dikelola dengan pengetahuan dapat menjadi awal lahirnya usaha yang bertahan dan bertumbuh.

