Universitas Harapan Bangsa menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dalam perhelatan Lengger Bicara 2026 di kawasan Menara Teratai Purwokerto, Jumat, 26 Juni 2026. Layanan tersebut menyasar sekitar 5.000 penari lengger dan masyarakat umum yang memadati ruang budaya tersebut sejak rangkaian kegiatan berlangsung. Melalui pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat, UHB memfasilitasi deteksi awal kesehatan di tengah semarak perayaan seni tradisi Banyumas.
Kehadiran UHB menjadi bagian dari dukungan nyata terhadap kegiatan budaya yang mengusung tema “Gemah Ripah Loh Jinawi”. Tema itu hidup dalam suasana acara yang mempertemukan ribuan penari, pelaku seni, komunitas, dan warga melalui rangkaian Art Camp, Lenggeran Bareng, hingga pertunjukan utama “Senandung Tanah Makmur”. Di antara gerak tari, iringan musik, dan antusiasme masyarakat, layanan kesehatan UHB menjadi titik singgah yang memberi manfaat langsung bagi peserta.

Tim UHB melayani peserta yang ingin mengetahui kondisi kesehatannya secara sederhana dan cepat. Sejumlah penari dan pengunjung memanfaatkan layanan tersebut untuk memeriksa kadar gula darah, kolesterol, serta asam urat sebelum maupun sesudah mengikuti rangkaian kegiatan. Pemeriksaan ini tidak hanya membantu peserta mengenali kondisi tubuh, tetapi juga membuka ruang edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat dan pemeriksaan berkala.
Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Riska Nadya Salsabela, S.E., M.Sc., mengatakan bahwa kehadiran UHB dalam Lengger Bicara 2026 merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat. “Pemeriksaan sederhana dapat membantu masyarakat mengenali kondisi tubuh lebih awal. Kesadaran ini penting untuk mencegah risiko kesehatan yang lebih serius,” kata Riska. Menurutnya, acara budaya yang melibatkan ribuan orang menjadi ruang strategis untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat secara langsung, mudah dijangkau, dan relevan dengan kebutuhan warga.

Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menegaskan bahwa pelestarian budaya dan peningkatan kualitas hidup masyarakat harus berjalan beriringan. “Pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari kualitas hidup masyarakatnya. Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan peran UHB sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya hadir di ruang akademik, tetapi juga aktif menggerakkan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui layanan kesehatan gratis ini, UHB memperkuat komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals poin ketiga kehidupan sehat dan sejahtera. Kegiatan tersebut juga selaras dengan semangat pendidikan bermutu, karena menghadirkan edukasi kesehatan langsung kepada masyarakat, serta memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi, komunitas budaya, dan warga. Di tengah denyut Lengger Bicara 2026, UHB menunjukkan bahwa merawat budaya berarti juga merawat manusia yang menghidupkannya.
