Merangkai gagasan menjadi aplikasi, dari memahami teknologi menuju karya yang berarti. Universitas Harapan Bangsa membekali siswa SMK Negeri 1 Purwokerto dengan keterampilan Vibe Coding berbasis kecerdasan buatan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan ini dirancang agar siswa mampu memanfaatkan AI secara kritis dan kreatif dalam mengembangkan solusi digital.

Program Studi Sistem Informasi UHB menghadirkan kegiatan bertajuk “AI Coding Experience: Mengenalkan Vibe Coding sebagai Pendekatan Inovatif Pengembangan Aplikasi bagi Generasi Digital Siswa SMK”. Guru serta puluhan siswa jurusan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 11.30 WIB.

Ketua Program Studi Sistem Informasi UHB, Retno Agus Setiawan, S.Kom., M.T., memimpin kegiatan bersama Ir. Rosyid Ridlo Al Hakim, S.Kom., S.Si., M.T. dan Krisna Widi Nugraha, S.Kom., M.Kom. Sejumlah mahasiswa turut menjadi fasilitator, termasuk mahasiswa internasional asal Sudan, Hassan Khalid Hassan Awadelseed. Mahasiswa UHB yang merupakan alumni SMK Negeri 1 Purwokerto juga terlibat mendampingi peserta.

Kegiatan tersebut berangkat dari perubahan kebutuhan kompetensi di tengah perkembangan teknologi digital. Kemampuan menggunakan perangkat digital kini perlu diikuti kecakapan memahami masalah, menyusun solusi, serta memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. “Vibe Coding merupakan metode pengembangan aplikasi yang memanfaatkan interaksi antara manusia dengan teknologi kecerdasan buatan,” ujar Retno Agus Setiawan.

Menurut Retno, pendekatan tersebut memberi ruang bagi pengembang untuk berkonsentrasi pada gagasan, logika, dan kreativitas. AI dapat membantu sejumlah proses teknis, tetapi manusia tetap memegang kendali dalam menentukan kebutuhan dan menilai hasilnya. Konsep itu langsung diterapkan melalui praktik pembuatan aplikasi “TaskKu”. Peserta memulai proses dengan mengenali persoalan yang ingin diselesaikan. Mereka kemudian belajar merancang instruksi untuk AI, membangun fitur, menguji aplikasi, memperbaiki hasil, hingga melakukan publikasi aplikasi.

Model pembelajaran berbasis praktik tersebut sekaligus memperkenalkan siswa pada cara kerja pengembangan perangkat lunak di era AI. Peserta tidak diarahkan sekadar menerima kode yang dihasilkan teknologi. Mereka dilatih memahami bahwa kualitas keluaran AI sangat dipengaruhi kemampuan manusia dalam memberikan instruksi dan melakukan evaluasi.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan menciptakan solusi. “Generasi muda perlu dipersiapkan bukan hanya untuk menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Melalui kegiatan seperti ini, UHB ingin memperluas ruang belajar agar kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan literasi digital tumbuh bersama,” kata Yuris.

Antusiasme peserta terlihat terutama ketika mereka memasuki sesi praktik. Proses tersebut memperlihatkan bahwa AI bukan pengganti kemampuan manusia dalam pemrograman. Teknologi berfungsi sebagai alat bantu, sementara manusia tetap berperan merumuskan persoalan, menentukan instruksi, memeriksa keluaran, dan menyempurnakan aplikasi. Penguatan literasi digital tersebut sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Kegiatan ini juga bersinggungan dengan SDG 9 melalui penguatan kapasitas inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Bagi UHB, pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang untuk membawa pengetahuan dari perguruan tinggi lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda. Kolaborasi dengan sekolah juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal perkembangan bidang Sistem Informasi, termasuk peluang pendidikan dan karier di industri digital. Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Mereka didorong untuk tumbuh menjadi generasi yang mampu membaca masalah, merancang gagasan, dan menciptakan solusi. Sebab di tengah laju kecerdasan buatan, masa depan bukan hanya milik mereka yang mampu memakai teknologi, tetapi juga mereka yang mampu memberinya arah.

LPH

By LPH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *