Universitas Harapan Bangsa menyelenggarakan Seminar Nasional Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi bertema “Membangun Integritas, Etika Profesional, serta Budaya Student dan Patient Safety dalam Praktik Keperawatan Anestesiologi” pada Kamis, 2 Juli 2026, di Aula Gedung E, Kampus 1 UHB. Kegiatan ini menghadirkan dr. Bahtiar Ahmad, Sp.An TI., Subsp. An Ped(K), Imawan Dani Atmoko, S.Kep., Ns., dan Amin Susanto, S.Kep., Ns., MSN., dengan moderator Frida Voliana, S.Kep., Ns., M.Kep. Seminar tersebut digelar untuk memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi praktik klinik dan pelayanan anestesi yang menuntut ketelitian, integritas, serta budaya keselamatan.

Sejak awal kegiatan, suasana seminar berlangsung serius namun dinamis. Para peserta mengikuti pemaparan narasumber dengan antusias, terutama ketika pembahasan menyentuh situasi nyata di ruang operasi, ruang pemulihan, dan lingkungan praktik klinik. Diskusi tidak hanya membahas teori, tetapi juga menyoroti bagaimana calon penata anestesi harus mengambil keputusan secara tepat, berani melaporkan risiko, dan menjaga keselamatan pasien maupun mahasiswa selama praktik.

Dalam pemaparannya, dr. Bahtiar Ahmad menekankan pentingnya manajemen perioperatif sebagai rangkaian tindakan yang mencakup fase sebelum, selama, dan setelah operasi. Ia menjelaskan bahwa keselamatan pasien dimulai dari pengkajian preoperatif, verifikasi identitas, pemeriksaan riwayat alergi, pemantauan intraoperatif, hingga observasi pascaoperatif di ruang pemulihan. Materi tersebut menggarisbawahi bahwa pelayanan anestesi bukan hanya tindakan teknis, melainkan kerja kolaboratif yang membutuhkan komunikasi, dokumentasi, dan kepatuhan terhadap standar.

Sementara itu, Imawan Dani Atmoko menyoroti integritas dan profesionalisme penata anestesi sebagai fondasi mutu pelayanan. Ia menegaskan bahwa integritas tercermin dari kejujuran, tanggung jawab, disiplin, serta keberanian untuk menyampaikan potensi kesalahan. Dalam konteks pelayanan anestesi yang berisiko tinggi, budaya keselamatan hanya dapat tumbuh ketika setiap tenaga kesehatan mampu berbicara terbuka, mendokumentasikan tindakan secara akurat, dan menempatkan keselamatan pasien di atas kepentingan lain.

Materi berikutnya disampaikan Amin Susanto yang membahas keselamatan mahasiswa selama praktik klinik keperawatan anestesiologi. Ia memaparkan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur, penggunaan alat pelindung diri, pemantauan kesehatan pribadi, serta pelaporan kejadian tidak diinginkan. Pembahasan juga mencakup perlindungan mahasiswa dari risiko kecelakaan kerja, perundungan, kekerasan seksual, serta tantangan selama perjalanan menuju wahana praktik. Tema ini memberi penegasan bahwa keselamatan dalam pendidikan klinik harus mencakup pasien, mahasiswa, pembimbing, dan institusi mitra.

Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menyampaikan bahwa seminar ini menjadi bagian dari komitmen UHB dalam menyiapkan lulusan kesehatan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter dan bertanggung jawab. “Dalam pendidikan kesehatan, keselamatan pasien dan keselamatan mahasiswa harus menjadi budaya, bukan sekadar prosedur. UHB ingin membentuk calon tenaga kesehatan yang mampu bekerja dengan ilmu, integritas, dan kepekaan etik,” ujarnya.

Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Riska Nadiya Salsabela, S.E., M.Sc., menilai kegiatan ini menunjukkan keseriusan UHB dalam menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kebutuhan profesi. “Seminar ini mempertemukan mahasiswa dengan isu nyata di lapangan. Dampaknya bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga membangun cara berpikir profesional sejak dini,” katanya. Melalui kegiatan ini, UHB turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals poin ketiga kehidupan sehat dan sejahtera serta poin keempat pendidikan bermutu, dengan memperkuat kualitas pendidikan kesehatan yang aman, etis, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.

LPH

By LPH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *